Lintasmerahputih.com (Labuhanbatu, Sumatera Utara) – Komitmen mewujudkan Kabupaten Labuhanbatu yang ramah anak, inklusif, dan memberikan ruang yang setara bagi penyandang disabilitas kembali mendapat perhatian. Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kabupaten Labuhanbatu, Azhar Harahap, ST, yang akrab disapa Harahap Petarung, mendorong Bupati dan Wakil Bupati Labuhanbatu untuk memperkuat komitmen tersebut melalui berbagai kegiatan yang menyentuh langsung masyarakat.
Salah satu langkah yang dinilai dapat menjadi momentum membangun kesadaran masyarakat adalah menggelar nonton bareng (nobar) film Istimewa yang akan tayang secara serentak di bioskop Indonesia pada 17 September 2026.
Azhar berharap Bupati Labuhanbatu dr. Hj. Maya Hasmita bersama Wakil Bupati H. Jamri, ST, dapat mengajak masyarakat Labuhanbatu untuk menyaksikan film yang mengangkat kisah dan semangat perjuangan penyandang disabilitas tersebut.
Menurut Azhar, film Istimewa bukan sekadar tontonan, tetapi dapat menjadi media edukasi untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap penyandang disabilitas dan kelompok rentan.
“Kami berharap Kabupaten Labuhanbatu berkomitmen bagaimana memberikan akses yang sama. No one left behind, tidak boleh ada satu pun yang tertinggal. Misi kesetaraan ini harus kita bawa di semua aspek dan semua sektor, termasuk untuk kawan-kawan disabilitas,” ujar Azhar.
Ia menilai pemerintah daerah memiliki peran penting dalam memastikan penyandang disabilitas memperoleh hak dan kesempatan yang sama dalam kehidupan bermasyarakat maupun pembangunan daerah.
Komitmen tersebut, kata Azhar, dapat diwujudkan melalui penyediaan ruang publik yang ramah disabilitas, pengembangan sekolah inklusi, pelatihan keterampilan, pemberdayaan ekonomi, hingga dukungan terhadap kegiatan seni dan budaya.
“Kesetaraan bukan hanya slogan. Harus ada ruang yang benar-benar terbuka bagi saudara-saudara kita penyandang disabilitas untuk berkembang, berkarya dan menunjukkan potensi yang mereka miliki,” katanya.
Azhar juga menilai keberadaan film Istimewa, yang terinspirasi dari kisah nyata di Rumah Istimewa, menjadi salah satu sarana efektif untuk menyampaikan pesan tentang inklusivitas kepada masyarakat luas.
“Film ini menjadi media yang sangat efektif dalam menyampaikan pesan dan semangat. Tidak hanya bagi masyarakat umum dalam memandang kelompok rentan, tetapi juga bagi kawan-kawan disabilitas agar lebih percaya diri dan menampilkan potensi yang dimiliki,” ujarnya.
Menurutnya, dukungan terhadap karya seni dan film bertema sosial merupakan bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih peduli, menghargai keberagaman dan tidak memberikan stigma kepada penyandang disabilitas.
Azhar menambahkan, kolaborasi pemerintah dengan berbagai komunitas juga menjadi bagian penting dalam mewujudkan Labuhanbatu yang inklusif. Kehadiran Komite Disabilitas Daerah (KDD) Labuhanbatu, komunitas, akademisi, pelaku seni serta masyarakat dinilai dapat memperkuat gerakan bersama tersebut.
Ia berharap produksi karya film bertema sosial dan inklusif dapat terus berkembang karena mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan pesan kemanusiaan dengan cara yang lebih mudah diterima masyarakat.
“Harapan kita, Labuhanbatu tidak hanya menjadi kabupaten yang ramah anak, tetapi juga menjadi daerah yang ramah bagi penyandang disabilitas dan semua kalangan. Tidak ada diskriminasi, semua mempunyai kesempatan yang sama untuk maju,” tegasnya.
Film Istimewa dijadwalkan tayang serentak di layar bioskop Indonesia pada 17 September 2026. Film tersebut diproduseri Abdullah Mansuri dan melibatkan jajaran pemeran film, komunitas disabilitas, akademisi film, pengulas film serta para kreator konten.
Azhar berharap momentum penayangan film tersebut dapat dimanfaatkan Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu untuk menggelar nonton bareng bersama masyarakat, sekaligus menjadi ruang dialog mengenai pentingnya perlindungan anak, kesetaraan hak dan pemenuhan akses bagi penyandang disabilitas.
“Kalau pemerintah, masyarakat, komunitas disabilitas, dunia pendidikan, pelaku seni dan generasi muda bergerak bersama, saya yakin Labuhanbatu bisa menjadi daerah yang benar-benar inklusif. Mari kita buktikan bahwa no one left behind bukan sekadar kata-kata, tetapi menjadi gerakan bersama,” pungkas Azhar.
(Ms Harahap)











Comment